by : ETIK ANDRIANI
Ujung Rinjani
PRAS berjalan dengan langkah
setengah berlari. Sesekali kakinya melompati genangan air. Gerimis yang turun
sejak siang tadi benar-benar membuatnya bad mood. Langit diselimuti
mendung, gelap gulita. Maghrib belum lagi tiba, tapi suasana
layaknya malam saja. Sepi dan mencekam.
Ia percepat
langkah. Gapura gang menuju rumah kontrakan tempatnya tinggal sudah tampak.
Pras ingin segera sampai dan merebahkan tubuhnya. Penat sekali hari ini, karena
pekerjaan di kantor benar-benar membuatnya kelelahan. Tidak hanya otaknya,
fisiknya juga terasa lunglai.
“ Sudah pulang, Mas
Demang?” tanya Ujo, penghuni kontrakan sebelah.
Oleh warga sesama
pengontrak, Pras memang sering dipanggil ‘Mas Demang’. Pertimbangannya
sederhana. Pras adalah orang Jawa dan namanya kebetulan njawa banget, Prasetyo
Hadiningrat .
“Iya nih, pulang
awal. Badan lagi nggak enak,” kata
Pras.
“Kayaknya ada yang nunggu. Tuh di rumah, cewek. Siapa, Mas Demang? Awas dimintai tanggung
jawab loh,“ Ujo berkelakar.
“Hah, cewek? Ah lu bisa aja.”
“Ha ha ha ...,”
tawa Ujo lepas sambil terus berlalu. Renyah banget tawanya, kayak krupuk baru
digoreng.
“Ada cewek? Siapa
ya? Ah, Ujo payah. Becanda gak mutu,” Pras ngedumel
sambil terus melangkah menyusuri lorong gang menuju rumah kontrakannya.
Akhirnya sampai
juga. Tangan Pras langsung menggamit pintu dan membukanya setelah sebelumnya memutar
anak kunci. Betapa terkejutnya, ia melihat bener-bener ada cewek di rumah. Ia
bertanya dalam hati, bagaimana cewek ini bisa masuk rumahnya? Padahal, waktu berangkat kerja, ia sudah mengunci
pintu dan kuncinya ia bawa. Waktu pulang, ia juga membuka pintu itu setelah
sebelumnya membuka dengan kunci yang ia bawa.
“Mas ... ,” sapa
cewek tadi menoleh begitu mendegar suara pintu dibuka.
Pras makin kaget
ketika tahu siapa cewek itu. Cewek dengan baju putih dan celana jeans
biru ada di depannya. Bibirnya mengembang, tersenyum manis sekali.
“Hah, bener ini
kamu, Sasti?” kata Pras, spontan.
“Iya, ini aku
Sasti. Prasasti, Mas. Kok bengong?
“Kapan kamu datang,
Nduk? Dan kenapa gak ngabarin dulu?
Kapan turun dari Rinjani? Atau gak jadi berangkat?” Pras langsung memberondong
Sasti dengan sejumlah pertanyaan.
“Mas, satu-satu
dong nanyanya. Kalo rombongan gitu Sasti bingung. Ini mana yang mo dijawab
duluan?” Sasti balik
bertanya.
“Eh, iya, lupa. Abisnya
lha kowe kuwi ngageti wae... ,“ timpal Pras dengan Jawa medhok-nya.
Begitulah
perbincangan ringan terjadi. Mulai kapan datang, kabarnya bagaimana, berangkat
dengan siapa, apa sudah lama menunggu dia pulang, begitu seterusnya. Tak hanya itu, hal-hal yang berat-berat seperti masalah perkembangan
politik dalam dan luar negeri, lembeknya pemerintahan SBY (Susilo Bambang Yudhoyono)
dalam menyikapi problem-problem kebangsaan, tren ekonomi global, juga
masalah hukum dan sosial juga mereka perbincangkan, termasuk gosip-gosip entertainment.
***
MAGHRIB tiba. Sejoli itu masih asyik
berbincang. Keduanya juga saling melempar senyum, saling pandang dan sesekali
tertawa cekikian. Mereka lepaskan kerinduan yg memenuhi hati mereka karena
terpisah jarak yang cukup jauh. Pras tinggal dan kerja di Jakarta.
Sementara Sasti di Surabaya. Kerinduan yang mereka
tabung hari demi hari, bulan demi bulan mereka tumpahkan ketika bertemu.
“Mas, Maghrib tuh,”
kata Sasti mengingatkan Pras tentang sebuah panggilan adzan Maghrib agar segera
menghamba kepada Sang Pencipta.
“Iya, iya. Yuk
sama-sama!“ ajak Pras.
“Mas duluan aja.
Aku lagi nggak salat, “ kata Sasti dan Pras memahami karena kekasihnya lagi
datang bulan.
“Oke, tunggu ya.
Jangan ke mana-mana. Masih banyak yang bakal aku tanya padamu, Sasti,” pesan Pras.
“Ya, baiklah, Mas,“
jawab Sasti.
Sepeninggal Pras ke
mushala, Sasti mengamati ruang kontrakan itu. Kamar
yang sederhana tapi cukup memadai untuk seorang karyawan seperti Pras. Sebuah
kamar yang cukup luas dibagi menjadi tiga bagian. Satu ruang untuk tamu,
kemudian kamar tidur bersebelahan dengan ruang untuk mandi. Di ruang tamu ada
meja kursi tamu mungil bernuansa minimalis dan satu set meja kerja yang di
separo permukaannya diletakkan TV 17 inci.
Lumayan juga
kontrakan ini, batin Sasti. Lalu dia bergeser ke kamar. Di ruang ini ada dipan
tak terlalu besar dengan seprei warna cream bermotif bunga-bunga kecil yang
hampir tak tampak karena saking kecilnya, satu bantal dan satu guling. Di ujung
dekat bagian kepala terdapat meja kecil dan ada beberapa buku yang tertata
rapi.
“Hemmmm ... Mas
Pras memang sangat rapi, “ suara hati Sasti memuji.
Ya begitulah. Pras
memang laki-laki yang sangat rapi. Hidupnya teratur dan segala kegiatannya
terjadwal. Sangat bertolak belakang dengan kekasihnya, Sasti, yang cenderung slebor dan berantakan. Meski cewek, dia
tidak terbiasa berpenampilan feminim. Sebaliknya, ia cenderung tomboy. Tapi mereka saling mencintai dan
Pras sangat memahami kekasihnya itu.
Perlahan Sasti
kembali ke ruang tamu dan duduk lagi di kursi, menunggu Pras kembali dari
mushalla.
“Sas ...,” panggil
Pras pelan, tapi panggilan itu sempat membuat Sasti kaget.
“Ya Mas,” jawabnya
pendek.
“Makan yuk!”
“Maaf, Mas. Aku gak
bisa lama. Aku cuma punya waktu sebentar. Makannya kapan-kapan aja ya? Aku pengen duduk di sini, di sampingmu,
boleh?” ujar Sasti.
“Sebentar? Kenapa?
Jauh-jauh kamu datang dari Surabaya dan di sini cuma sebentar? Gak masuk akal
banget Sas. Kenapa? Ada apa?“ Pras makin penasaran.
Sasti Cuma diam.
Bibirnya mengatup rapat. Ia diam memandangi Pras dengan pandangan mata yang tak
bisa diterjemahkan oleh pria itu.
“Sas, ngomonglah,
ada apa? Kenapa? Jangan buat aku mati penasaran, gak biasanya kamu seperti ini.
Lagi sakit?” Pras mulai cemas.
“Nggak, Mas. Aku...
aku … cuma ....,”
“ Cuma apa? Ayolah, Sas cerita dong. Pasti
ada apa-apa. Kamu datang mendadak tanpa kabar. Tiba-tiba nongol dan kini diam pula. Gak mungkin
kalo gak ada apa-apa. Katakan apa pun itu,” kat Pras mendesak.
Pras lalu teringat
kembali bagimana Sasti bisa masuk rumahnya, padahal pintunya terkunci. Pikiran Pras mulai mengembara ke mana-mana. Tapi,
secepatnya ia menghentikan pikiran yang enggak-enggak
tentang Sasti.
“Mas. Apa yang akan
kamu lakukan jika aku mati?” tanya Sasti dengan wajah menunduk dan sedikit
pucat.
“Aku gak mau kamu
mati,” jawab Pras.
“Aku gak mau kamu
mati Sas,“ Pras mengulang jawabannya dengan nada lebih lembut dan tepat di muka
Sasti yang telah dipegang dengan kedua tangannya.
“Aku gak mau kamu mati, sayang,”
ditegaskannya kembali jawaban itu.
“Tapi semua orang
akan mati kan, Mas? Cuma nunggu waktu, nunggu antrean
kapan akan dipanggil.“
“Ya, aku tahu itu. Tapi kalo toh harus
mati, aku mau kita mati bersamaan,“ kata Pras agak
ngelantur.
“Apa bisa begitu
Mas? Koyo dewo ae....ojo nggldrah, Mas,“
kata Sasti dengan logat jawanya yang kental.
“Yo ben,“ kata Pras dengan nada jengkel.
Dia merasa jengkel karena perbincangan itu sama sekali tidak
diharapkan.
“Mas. Kalo aku
bener-bener mati, Mas jangan pernah menangis ya,
karena aku gak suka melihat laki-laki
menangis.”
“ Sas...” Pras berusaha memotong.
“Tolong Mas diem dan dengerin aku, sekali ini aja.”
“Okelah, “ Pras
menganggukkan kepalanya.
“Aku ulangi, jangan
pernah menangis. Dan jangan terus larut dalam kesedihan. Kamu harus mencari
penggantiku. Harus!”
“Walah, dasar bocah edan,” respon Pras sambil mengacak-acak rambut Sasti yang pendek.
Itu perlakuan yang paling Pras suka jika lagi deket Sasti sebagai ungkapan rasa
kasihnya yang dalam.
“Bener ya, cari
penggantiku. Tapi satu hal yang mesti Mas Pras ingat, aku mencintaimu, sangat
mencintaimu sampai batas yang aku sendiri gak tau Mas...,”
“Oke... oke. Aku
tau banget itu, Sas. Kalo gak cinta masak kangen dan jauh-jauh
nyamperin Masmu ini. Ya to... ya to?” Goda Pras dengan membuat wajah lucu di
depan Sasti. Ini kebiasaan Pras yang paling gak disukai Sasti, karena dengan mimik seperti itu, menurutnya Pras jadi tampak jelek.
Sasti diam.
Beberapa menit tanpa kata. Ia cuma memainkan harmonika di tangannya,
diputar-putar di genggamannya.
“Sas, kok
harmonikanya gak dibunyiin, cuma diputer-puter aja? “ tanya Pras heran,
karena tidak biasanya Sasti seperti itu, diam dan aneh. Karena harmonika itu
tak pernah diam setiap ada waktu luang, selalu bertengger di bibirnya lalu mengeluarkan suara merdu. Tapi kali ini tidak. Aneh sekali, pikir Pras.
“Mas, seperti yang
aku bilang tadi. Aku gak punya waktu banyak. Aku harus kembali.”
“ Sas. Tunggulah
sebentar. Kita makan dulu ya?”
“Nggak bisa Mas. Thank you.”
“Well, biar aku antar.”
“Nggak usahlah,
Mas. Aku naik taksi aja.”
“Ya sudahlah. Aku antar cari taksi,” kata Pras ngalah.
Dia tahu kalau Sasti sudah mengatakan sesuatu, maka itu yang akan
dilakukannya dan sulit untuk dicegah. Karena itu, Pras turuti saja kemauannya
asal tidak membahayakan Sasti. Kemudian beranjaklah mereka keluar dari ruangan
di mana mereka duduk, melangkah bersama menuju gapura gang.
Sasti diam di
sepanjang perjalanan di gang itu. Diam tak mengatakan apa pun. Cuma Pras yang
bicara sekadarnya sampai mereka tiba di ujung gapura di tepi jalan. Ketika
menunggu taksi, Sasti akhirnya bicara juga.
“Mas ....”
“Ya?” Pras mereaksi.
“Gak jadi,”kata
Sasti seperti menggoda.
“Biasa kowe kui.”
“Itu taksinya
Mas,”kata Sasti sambil melambaikan tangan ke arah taksi
dan taksi pun berenti di samping
mereka.
“Mas, aku pulang …
aku pulang, Mas,” kali ini suara Sasti terdengar terisak.
Dijabatnya tangan
Pras dan menarik tangan itu ke pipinya. Diciumnya punggung tangan itu
dalam-dalam. Pandangan mata Sasti lagi-lagi tak bisa diterjemahkan oleh Pras.
“Ya, ati-ati, Sas,”
kata Pras singat.
Sasti melangkah,
membuka pintu taksi lalu masuk ke mobil warna biru itu. Pintu jendela terbuka
dan terdengar suara Sasti.
“Mas, ingat kataku
tadi ya?”
Karena Pras tidak
mendengar apa yang dikatakan Sasti, dia mendekat ke mobil itu dan kepalanya
ditempelkan ke jendela taksi yang terbuka sambil berkata, “Setelah
sampai, telepon ya? “
“Ya Mas. Aku
mencintaimu,” kata Sasti lirih
“I love you, too,” Pras menimpali dengan cepat.
Dan, kaca jendela
taksi pun tertutup. Taksi melaju pelan kemudian beranjak cepat, membelah
padatnya lalu lintas Jakarta. Pras melangkah kembali menuju kontrakannya dengan
langkah gontai. Pikirannya tak karuan dengan hati penuh kerinduan yang belum
terpuaskan.
“Ufffff.” Dihela
nafasnya panjang-panjang sambil merebahkan diri di kursi di ruang tamunya yang
bergaya minimalis itu, yang tadi dipakainya duduk bersama Sasti. Pras merenung
dan berpikir, ada apa ini. Kenapa ini, apa yang terjadi pada Sasti kenapa dia
aneh, apa dia sakit? Pras terus berpikir sampai dia tertidur di kursi, lupa
kalau dia belum makan.
Pukul 20.35. Ringtone HP-ya berbunyi. Pras terbangun. “Haloo ...
Assalamu’alaikum ...” suara Pras memberikan salam pembuka.
“Ini benar nomor
Dik Pras?” terdengar suara perempuan di seberang line telepone menyapa.
Suaranya terdengar parau dan terisak.
“Ya benar. Ini
siapa ya?
“Ini saya Dik, mbak
Siska. Dik, besok cepet pulang ya dengan penerbangan pertama yang
mungkin ada,” kata Siska.
“Mbak Siska. Ada
apa? Kenapa mbak menangis?” tanya Pras dengan heran dan bingung menerima
telepon kakak perempuan Sasti itu.
“Dik. Sasti ...
Sasti ....”
“ Sasti kenapa
Mbak? Dia baik baik saja kan?”
“ Sasti.....
kecelakaan dan dia pergi dari kita....,” tangis di seberang makin keras.
Pras masih belum ngeh
dengan situasi ini. Kemudian ada suara laki-laki. Ya, Baskoro, suami Siska. Ia
pun menjelaskan apa yang menimpa Sasti.
“Pras, pulanglah
secepatnya. Sasti terperosok ke jurang dalam pendakiannya ke Rinjani. Tim SAR
menemukan tubuhnya tersangkut di pohon dalam jurang. Malam ini mungkin jasadnya
sampai di Juanda sekitar pukul 23.45. Pulang ya, Pras.”
Dan, Pras sudah tak
bisa mendengar lagi kalimat apa yang diucapkan Baskoro lewat telepon itu.
HP-nya terjatuh dan dia terduduk lemas di kursi yang tadi sore didudukinya
bersama Sasti.
“Gak mungkin, gak
mungkin. Dia baru dari sini duduk denganku, ngobrol denganku, mencium punggung
tanganku. Gak mungkin, gak mungkin ....”
Lama Pras bengong menerima
kenyataan pahit itu. Dan akhirnya dia sadar, bahwa Sasti yang datang ke
rumahnya tadi, Sasti yang sudah duduk di kursi tamunya meski pintu belum
dibuka, Sasti yang mencium punggung telapak tangannya, adalah Sasti yang telah berada di dunia lain. Dunia yang
menjadi fase transisi menuju kehidupan abadi di akhirat. Sasti benar-benar
pamit meski raganya berada di kedalaman jurang Rinjani.
Malam pun makin
gelap. Mendung tebal menyelimuti langit Jakarta. Sunyi. Hati Pras benar-benar
hampa sekarang. Ia akan lalui hari-harinya tanpa lagi ada Sasti di sisinya,
selamanya.
***
Bacaan yg cukup menguras emosi pembaca utk larut dalam pusaran alur cerita. Dialog-dialognya lincah seperti burung prenjak, namun sarat makna.
BalasHapus