Kamis, 17 April 2014

Ujung Rinjani


by : ETIK ANDRIANI
Ujung Rinjani

PRAS berjalan dengan langkah setengah berlari. Sesekali kakinya melompati genangan air. Gerimis yang turun sejak siang tadi benar-benar membuatnya bad mood. Langit diselimuti mendung, gelap gulita. Maghrib belum lagi tiba, tapi suasana layaknya malam saja. Sepi dan mencekam.
Ia percepat langkah. Gapura gang menuju rumah kontrakan tempatnya tinggal sudah tampak. Pras ingin segera sampai dan merebahkan tubuhnya. Penat sekali hari ini, karena pekerjaan di kantor benar-benar membuatnya kelelahan. Tidak hanya otaknya, fisiknya juga terasa lunglai.
“ Sudah pulang, Mas Demang?” tanya Ujo, penghuni kontrakan sebelah.
Oleh warga sesama pengontrak, Pras memang sering dipanggil ‘Mas Demang’. Pertimbangannya sederhana. Pras adalah orang Jawa dan namanya kebetulan njawa banget, Prasetyo Hadiningrat .
“Iya nih, pulang awal. Badan lagi nggak enak,” kata Pras.
Kayaknya ada yang nunggu. Tuh di rumah, cewek. Siapa, Mas Demang? Awas dimintai tanggung jawab loh,“ Ujo berkelakar.
“Hah, cewek? Ah lu bisa aja.”
“Ha ha ha ...,” tawa Ujo lepas sambil terus berlalu. Renyah banget tawanya, kayak krupuk baru digoreng.
“Ada cewek? Siapa ya? Ah, Ujo payah. Becanda gak mutu,” Pras ngedumel sambil terus melangkah menyusuri lorong gang menuju rumah kontrakannya.
Akhirnya sampai juga. Tangan Pras langsung menggamit pintu dan membukanya setelah sebelumnya memutar anak kunci. Betapa terkejutnya, ia melihat bener-bener ada cewek di rumah. Ia bertanya dalam hati, bagaimana cewek ini bisa masuk rumahnya? Padahal, waktu berangkat kerja, ia sudah mengunci pintu dan kuncinya ia bawa. Waktu pulang, ia juga membuka pintu itu setelah sebelumnya membuka dengan kunci yang ia bawa.
“Mas ... ,” sapa cewek tadi menoleh begitu mendegar suara pintu dibuka.
Pras makin kaget ketika tahu siapa cewek itu. Cewek dengan baju putih dan celana jeans biru  ada di depannya. Bibirnya mengembang, tersenyum manis sekali.
“Hah, bener ini kamu, Sasti?” kata Pras, spontan.
“Iya, ini aku Sasti. Prasasti, Mas. Kok bengong?
“Kapan kamu datang, Nduk? Dan kenapa gak ngabarin dulu? Kapan turun dari Rinjani? Atau gak jadi berangkat?” Pras langsung memberondong Sasti dengan sejumlah pertanyaan.
“Mas, satu-satu dong nanyanya. Kalo rombongan gitu Sasti bingung. Ini mana yang mo dijawab duluan?” Sasti balik bertanya.
“Eh, iya, lupa. Abisnya lha kowe kuwi ngageti wae... ,“ timpal Pras dengan Jawa medhok-nya.
Begitulah perbincangan ringan terjadi. Mulai kapan datang, kabarnya bagaimana, berangkat dengan siapa, apa sudah lama menunggu dia pulang, begitu seterusnya. Tak hanya itu, hal-hal yang berat-berat seperti masalah perkembangan politik dalam dan luar negeri, lembeknya pemerintahan SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) dalam menyikapi problem-problem kebangsaan, tren ekonomi global, juga masalah hukum dan sosial juga mereka perbincangkan, termasuk gosip-gosip entertainment.                                               
                                                                      ***
MAGHRIB tiba. Sejoli itu masih asyik berbincang. Keduanya juga saling melempar senyum, saling pandang dan sesekali tertawa cekikian. Mereka lepaskan kerinduan yg memenuhi hati mereka karena terpisah jarak yang cukup jauh. Pras tinggal dan kerja di  Jakarta. Sementara Sasti di Surabaya. Kerinduan yang mereka tabung hari demi hari, bulan demi bulan mereka tumpahkan ketika bertemu.
“Mas, Maghrib tuh,” kata Sasti mengingatkan Pras tentang sebuah panggilan adzan Maghrib agar segera menghamba kepada Sang Pencipta.
“Iya, iya. Yuk sama-sama!“ ajak Pras.
“Mas duluan aja. Aku lagi nggak salat, “ kata Sasti dan Pras memahami karena kekasihnya lagi datang bulan.
“Oke, tunggu ya. Jangan ke mana-mana. Masih banyak yang bakal aku tanya padamu, Sasti,” pesan Pras.
“Ya, baiklah, Mas,“ jawab Sasti.
Sepeninggal Pras ke mushala, Sasti mengamati ruang kontrakan itu. Kamar yang sederhana tapi cukup memadai untuk seorang karyawan seperti Pras. Sebuah kamar yang cukup luas dibagi menjadi tiga bagian. Satu ruang untuk tamu, kemudian kamar tidur bersebelahan dengan ruang untuk mandi. Di ruang tamu ada meja kursi tamu mungil bernuansa minimalis dan satu set meja kerja yang di separo permukaannya diletakkan TV 17 inci.
Lumayan juga kontrakan ini, batin Sasti. Lalu dia bergeser ke kamar. Di ruang ini ada dipan tak terlalu besar dengan seprei warna cream bermotif bunga-bunga kecil yang hampir tak tampak karena saking kecilnya, satu bantal dan satu guling. Di ujung dekat bagian kepala terdapat meja kecil dan ada beberapa buku yang tertata rapi.
“Hemmmm ... Mas Pras memang sangat rapi, “ suara hati Sasti memuji.
Ya begitulah. Pras memang laki-laki yang sangat rapi. Hidupnya teratur dan segala kegiatannya terjadwal. Sangat bertolak belakang dengan kekasihnya, Sasti, yang cenderung slebor dan berantakan. Meski cewek, dia tidak terbiasa berpenampilan feminim. Sebaliknya, ia cenderung tomboy. Tapi mereka saling mencintai dan Pras sangat memahami kekasihnya itu.
Perlahan Sasti kembali ke ruang tamu dan duduk lagi di kursi, menunggu Pras kembali dari mushalla. 
“Sas ...,” panggil Pras pelan, tapi panggilan itu sempat membuat Sasti kaget.
“Ya Mas,” jawabnya pendek.
“Makan yuk!”
“Maaf, Mas. Aku gak bisa lama. Aku cuma punya waktu sebentar. Makannya kapan-kapan aja ya? Aku pengen duduk di sini, di sampingmu, boleh?” ujar Sasti.
“Sebentar? Kenapa? Jauh-jauh kamu datang dari Surabaya dan di sini cuma sebentar? Gak masuk akal banget Sas. Kenapa? Ada apa?“ Pras makin penasaran.
Sasti Cuma diam. Bibirnya mengatup rapat. Ia diam memandangi Pras dengan pandangan mata yang tak bisa diterjemahkan oleh pria itu.
“Sas, ngomonglah, ada apa? Kenapa? Jangan buat aku mati penasaran, gak biasanya kamu seperti ini. Lagi sakit?” Pras mulai cemas.
“Nggak, Mas. Aku... aku … cuma ....,”
“ Cuma apa? Ayolah, Sas cerita dong. Pasti ada apa-apa. Kamu datang mendadak tanpa kabar. Tiba-tiba nongol dan kini diam pula. Gak mungkin kalo gak ada apa-apa. Katakan apa pun itu,” kat Pras mendesak.
Pras lalu teringat kembali bagimana Sasti bisa masuk rumahnya, padahal pintunya terkunci. Pikiran Pras mulai mengembara ke mana-mana. Tapi, secepatnya ia menghentikan pikiran yang enggak-enggak tentang Sasti.
“Mas. Apa yang akan kamu lakukan jika aku mati?” tanya Sasti dengan wajah menunduk dan sedikit pucat.
“Aku gak mau kamu mati,” jawab Pras.
“Aku gak mau kamu mati Sas,“ Pras mengulang jawabannya dengan nada lebih lembut dan tepat di muka Sasti yang telah dipegang dengan kedua tangannya.
“Aku gak mau kamu mati, sayang,” ditegaskannya kembali jawaban itu.
“Tapi semua orang akan mati kan, Mas? Cuma nunggu waktu, nunggu antrean kapan akan dipanggil.“
“Ya, aku tahu itu. Tapi kalo toh harus mati, aku mau kita mati bersamaan,“ kata Pras agak ngelantur.
“Apa bisa begitu Mas? Koyo dewo ae....ojo nggldrah, Mas,“ kata Sasti dengan logat jawanya yang kental.
Yo ben,“ kata Pras dengan nada jengkel.  Dia merasa jengkel karena perbincangan itu sama sekali tidak diharapkan.
“Mas. Kalo aku bener-bener mati, Mas jangan pernah menangis ya, karena aku gak suka melihat laki-laki menangis.
“ Sas...” Pras berusaha memotong.
“Tolong Mas diem dan dengerin aku,  sekali ini aja.”
“Okelah, “ Pras menganggukkan kepalanya.
“Aku ulangi, jangan pernah menangis. Dan jangan terus larut dalam kesedihan. Kamu harus mencari penggantiku. Harus!”
“Walah, dasar bocah edan,” respon Pras sambil mengacak-acak rambut Sasti yang pendek. Itu perlakuan yang paling Pras suka jika lagi deket Sasti sebagai ungkapan rasa kasihnya yang dalam.
“Bener ya, cari penggantiku. Tapi satu hal yang mesti Mas Pras ingat, aku mencintaimu, sangat mencintaimu sampai batas yang aku sendiri gak tau Mas...,
“Oke... oke. Aku tau banget itu, Sas. Kalo gak cinta masak kangen dan jauh-jauh nyamperin Masmu ini. Ya to... ya to?” Goda Pras dengan membuat wajah lucu di depan Sasti. Ini kebiasaan Pras yang paling gak disukai Sasti, karena dengan mimik seperti itu, menurutnya Pras jadi tampak jelek.
Sasti diam. Beberapa menit tanpa kata. Ia cuma memainkan harmonika di tangannya, diputar-putar di genggamannya.
“Sas, kok harmonikanya gak dibunyiin, cuma diputer-puter aja? “ tanya Pras heran, karena tidak biasanya Sasti seperti itu, diam dan aneh. Karena harmonika itu tak pernah diam setiap ada waktu luang, selalu bertengger di bibirnya lalu mengeluarkan suara merdu. Tapi kali ini tidak. Aneh sekali, pikir Pras.
“Mas, seperti yang aku bilang tadi. Aku gak punya waktu banyak. Aku harus kembali.”
“ Sas. Tunggulah sebentar. Kita makan dulu ya?”
“Nggak bisa Mas. Thank you.
Well, biar aku antar.”
“Nggak usahlah, Mas. Aku naik taksi aja.”
Ya sudahlah. Aku antar cari taksi,” kata Pras ngalah.
Dia tahu kalau Sasti sudah mengatakan sesuatu, maka itu yang akan dilakukannya dan sulit untuk dicegah. Karena itu, Pras turuti saja kemauannya asal tidak membahayakan Sasti. Kemudian beranjaklah mereka keluar dari ruangan di mana mereka duduk, melangkah bersama menuju gapura gang.
Sasti diam di sepanjang perjalanan di gang itu. Diam tak mengatakan apa pun. Cuma Pras yang bicara sekadarnya sampai mereka tiba di ujung gapura di tepi jalan. Ketika menunggu taksi, Sasti akhirnya bicara juga.
“Mas ....”
“Ya?” Pras mereaksi.
“Gak jadi,”kata Sasti seperti menggoda.
“Biasa kowe kui.”
“Itu taksinya Mas,”kata Sasti sambil melambaikan tangan ke arah taksi dan  taksi pun berenti di samping mereka.
“Mas, aku pulang … aku pulang, Mas,” kali ini suara Sasti terdengar terisak.
Dijabatnya tangan Pras dan menarik tangan itu ke pipinya. Diciumnya punggung tangan itu dalam-dalam. Pandangan mata Sasti lagi-lagi tak bisa diterjemahkan oleh Pras.
“Ya, ati-ati, Sas,” kata Pras singat.
Sasti melangkah, membuka pintu taksi lalu masuk ke mobil warna biru itu. Pintu jendela terbuka dan terdengar suara Sasti.
“Mas, ingat kataku tadi ya?”
Karena Pras tidak mendengar apa yang dikatakan Sasti, dia mendekat ke mobil itu dan kepalanya ditempelkan ke jendela taksi yang terbuka sambil berkata,  “Setelah sampai, telepon ya? “
“Ya Mas. Aku mencintaimu,” kata Sasti lirih
I love you, too,” Pras menimpali dengan cepat.
Dan, kaca jendela taksi pun tertutup. Taksi melaju pelan kemudian beranjak cepat, membelah padatnya lalu lintas Jakarta. Pras melangkah kembali menuju kontrakannya dengan langkah gontai. Pikirannya tak karuan dengan hati penuh kerinduan yang belum terpuaskan.
“Ufffff.” Dihela nafasnya panjang-panjang sambil merebahkan diri di kursi di ruang tamunya yang bergaya minimalis itu, yang tadi dipakainya duduk bersama Sasti. Pras merenung dan berpikir, ada apa ini. Kenapa ini, apa yang terjadi pada Sasti kenapa dia aneh, apa dia sakit? Pras terus berpikir sampai dia tertidur di kursi, lupa kalau dia belum makan.
Pukul 20.35. Ringtone HP-ya berbunyi. Pras terbangun. “Haloo ... Assalamu’alaikum ...” suara Pras memberikan salam pembuka.
“Ini benar nomor Dik Pras?” terdengar suara perempuan di seberang line telepone  menyapa. Suaranya terdengar parau dan terisak.
“Ya benar. Ini siapa ya?
“Ini saya Dik, mbak Siska. Dik, besok cepet pulang ya dengan penerbangan pertama yang mungkin ada,” kata Siska.
“Mbak Siska. Ada apa? Kenapa mbak menangis?” tanya Pras dengan heran dan bingung menerima telepon kakak perempuan Sasti itu.
“Dik. Sasti ... Sasti ....”
“ Sasti kenapa Mbak? Dia baik baik saja kan?”
“ Sasti..... kecelakaan dan dia pergi dari kita....,” tangis di seberang makin keras.
Pras masih belum ngeh dengan situasi ini. Kemudian ada suara laki-laki. Ya, Baskoro, suami Siska. Ia pun menjelaskan apa yang menimpa Sasti.
“Pras, pulanglah secepatnya. Sasti terperosok ke jurang dalam pendakiannya ke Rinjani. Tim SAR menemukan tubuhnya tersangkut di pohon dalam jurang. Malam ini mungkin jasadnya sampai di Juanda sekitar pukul 23.45. Pulang ya, Pras.”
Dan, Pras sudah tak bisa mendengar lagi kalimat apa yang diucapkan Baskoro lewat telepon itu. HP-nya terjatuh dan dia terduduk lemas di kursi yang tadi sore didudukinya bersama Sasti.
“Gak mungkin, gak mungkin. Dia baru dari sini duduk denganku, ngobrol denganku, mencium punggung tanganku. Gak mungkin, gak mungkin ....”
Lama Pras bengong menerima kenyataan pahit itu. Dan akhirnya dia sadar, bahwa Sasti yang datang ke rumahnya tadi, Sasti yang sudah duduk di kursi tamunya meski pintu belum dibuka, Sasti yang mencium punggung telapak tangannya, adalah Sasti yang  telah berada di dunia lain. Dunia yang menjadi fase transisi menuju kehidupan abadi di akhirat. Sasti benar-benar pamit meski raganya berada di kedalaman jurang Rinjani.
Malam pun makin gelap. Mendung tebal menyelimuti langit Jakarta. Sunyi. Hati Pras benar-benar hampa sekarang. Ia akan lalui hari-harinya tanpa lagi ada Sasti di sisinya, selamanya.

                                                            ***


1 komentar:

  1. Bacaan yg cukup menguras emosi pembaca utk larut dalam pusaran alur cerita. Dialog-dialognya lincah seperti burung prenjak, namun sarat makna.

    BalasHapus